Senin, 09 Juni 2008

Akar dAri KesalAhan

Akar dari kesalahan itu ada tiga


Pertama, kesombongan.
Itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang ia alami.

Kedua, keserakahan
Dan itulah yang mengeluarkan Adam dari Surga.

Ketiga, kedengkian
Dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya.

Maka barangsiapa berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan itu, sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya.

Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan
Karena kemaksiatan itu sumbernya keserakahan
Sedang kezhaliman itu sumbernya kedengkian

(Ibnu Qoyyim)

“ Barangsiapa yang mencari AKHIRAT, ALLAH akan menjadikan kekayaan dihatinya dan menghimpun seluruh urusannya untuknya, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.

Sedangkan siapa saja yang mengharapkan DUNIA, ALLAH akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan menceraiberaikan urusannya serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan untuknya“.

(HR. Tarmidzi & Ibnu Majah)

Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik

(QS. Al Isra’ : 18-20)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka(1). Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. AL An’aam : 32)

(1) Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Janganlah orang
terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat

Busana Muslimah

Ketentuan Busana Muslimah

Kalau berbicara tentang aurat, maka tidak akan terlepas dari ingatan kita masalah busana. Aurat dan busana, keduanya tidak bisa dipisahkan, sebab aurat itu sendiri sebagaimana yang telah kita bahas di depan, adalah bagian anggota tubuh yang harus ditutup, sedangkan busana adalah alat untuk menutup aurat, dan inilah salah satu fungsi dari busana. Jadi keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
Islam telah menetapkan beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi oleh wanita muslimah dalam soal pakaian. Syarat-syarat ini terklasifikasi menjadi dua bagian.[1]
Hal-hal yang berhubungan dengan pola potongan baju dan pemakaiannya pada tubuh
Hal-hal yang berhubungan dengan model busana
Pertama : hal-hal yang berhubungan dengan potongan baju. Yang kami maksudkan adalah jahitan, maka jahitan pakaian wanita harus sesuai dengan apa yang telah digariskan Islam dalam masalah ini, kemudian juga dalam pemakaiannya pada tubuh, yakni dengan memperhatikan syarat-syarat berikut :
a) Hendaknya baju mencakup seluruh tubuh selain yang dikecualikan
b) Hendaknya baju tidak ketat yang menggambarkan lekuk-lekuk tubuh mereka
c) Tidak menyerupai pakaian laki-laki
d) Tidak menyerupai busana kaum wanita kafir
e) Busana muslimah tidak boleh berbau parfum/ wewangian
f) Busana muslimah harus lebar, tidak sempit dan tidak membentuk tubuh
g) Busana muslimah tidak boleh tipis dan merangsang/ transparan
Kedua : hal-hal yang berhubungan dengan model busana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Islam lebih banyak memperhatikan busana wanita dibandingkan dengan busana pria. Sehingga Islam menerapkan syarat-syarat pola potongan busana dan tata cara memakai. Juga memperlakukan syarat-syarat model busana yang bisa dipilih kaum wanita, diantaranya adalah :
Hendaknya pakaian tidak sekaligus menjadi perhiasan dengan sendirinya Wanita dilarang mengenakan suatu baju bilamana baju tersebut berpotensi menarik perhatian kaum laki-laki padanya, berdasarkan keumuman firman-Nya :
وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
"dan janganlah mereka menampakan perhiasannya"
Hendaklah baju tidak transparan yang menggambarkan segala apa yang berada didalamnya.
Khimar atau kerudung adalah sesuatu yang dipergunakan wanita untuk menyembunyikan dan menutupi kepalanya, serta harus dapat menutupi wajah. Sedangkan kerudung yang transparan tidak mungkin memenuhi tujuan tersebut, sebaliknya lebih berpotensi menimbulkan fitnah.
Ketika Aisyah ra ditanya tentang kerudung, maka ia berkata "Sesungguhnya kerudung adalah sesuatu yang menutupi wajah dan rambut.[2]
Al-`Aini berkata "….. lantas mereka menggunakan sebagai kerudung. artinya mereka menutupi wajah mereka dengan kaint mirth yang mereka sobek.[3]
Khathtabi menjelaskan "Al-Murath" adalah kain dari wol bentuk tunggalnya adalah mirth. Sedangkan perkataanya aknaf artinya yang paling bisa menutupi dan paling tebal….”[4]
"Telah berkata Ibnu Abbas "perhiasan yang zahir bagi wanita adalah muka, celak, dan pacar di tangan, serta cincin" (HR Ibnu Jarir)
[1] Lihat buku Perhiasan Wanita Muslimah : 30
[2] Baihaqi membawakannya secara Mu'allaq 11/255 lihat Hijabu'i-Mar'ah Hal : 58
[3] Perhiasan Wanita Muslimah Hal : 47
[4] `Umdatu `l-Qori` XV/348 dan Ghoribu `l-Hadits karya Khothobi II/576 terbitan Al-Markazul `ilmi. Universitas Ummul Quro

empat hal yang meracuni hati.

Rasulullah bersabda,
Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah berkata,
Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.

Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar, jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Pada kemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.

Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula, dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya, merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Perumpamaan hati, ialah seperti sebuah benteng. Sedangkan syetan merupakan musuh yang hendak masuk ke dalam benteng tersebut, hendak menguasai dan merebutnya. Benteng tidak akan terlindungi, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu, tidak akan bisa menjaganya.

Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:
1. Banyak Bicara 2. banyak Memandang 3. banyak Makan dan Minum 4. banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang

1. Banyak Bicara - Dari Mu'adz, dari Rasulullah bersabda, Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya. (1)
Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaf: 18)
Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi berkata, aku bertanya, "Ya Rasulullah, apakah yang paling anda takutkan terhadap diri saya?" Beliau bersabda, "Ini." sambil memegang lidahnya. (2)
Dari Uqbah bin Amir berkata, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Peliharalah lidahmu." (3)Beliau bersabda pula, Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda, Sesungguhnya, seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang jelas (ia anggap biasa); ternyata hal itu membuat ia tergelincir ke dalam api neraka lebih jauh dari pada jarak timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, Demi Allah, tiada tuhan yang pantas disembah selain Dia. Tiada sesuatu pun yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama, (kecuali) dari lidahku.
Beliau juga berkata, Wahai lidah, berkatalah yang baik, kamu akan beruntung. Dan Diamlah dari yang buruk, (maka) kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal.
Dari Abu Darda' berkata, Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah. Dijadikan untuk anda dua telinga dan satu lidah, supaya anda lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bencana lidah yang paling ringan yaitu berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah.
2. Banyak Memandang - Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang. Allah berfirman,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya"; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan, zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah. Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu, adalah kemaluan. (4)
Dari Jarir berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja). Beliau menjawab, "Alihkan pandanganmu." (5)
1. Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.
2. Pandangan merupakan pintu masuk syetan Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati. Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.
3. Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya.
Seorang yang shalih berkata, Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan meleset.
3. Banyak Makan dan Minum - Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.
Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya. Allah berfirman,
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-A'raf: 31)
Dari Miqdam bin Ma'di Karib berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Janganlah manusia memenuhi sebuah tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapa (tiga sampai sembilan), untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas. (6)
Ibnu Abbas berkata, Allah menghalalkan makan dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan tidak ada unsur kesombongan. Berlebihan dalam makan, dapat mengakibatkan banyak hal buruk. Ia menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan maksiat, serta menjadikannya merasa berat untuk taat dan ibadah. Cukuplah dua hal ini sebagai suatu keburukan.
Dari Utsman bin Za'idah berkata, Sufyan Ats-Tsauri berkirim surat kepadaku: Apabila engkau ingin badanmu sehat dan ringan tidurmu, maka sedikitkanlah makanmu.
Sebagian salaf berujar, Sebagian pemuda Bani Israil berta'abud (berpuasa sambil berkhalwat). Bila telah datang masa berbuka, salah seorang dari mereka berkata, "Jangan makan banyak-banyak, sehingga minum kalianpun banyak. Lalu tidur kalian juga banyak, akhirnya kalian banyak merugi."
'Aisyah meriwayatkan, sejak masuk Madinah, keluarga Rasulullah belum pernah merasa kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Amir bin Qais berkata, Berhati-hatilah engkau dari banyak makan. Karena hal itu menyebabkan kerasnya hati.
Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, "Kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar."
Al-Harits bin Kaladah -salah seorang pakar kedokteran Arab pada masa lalu berkata, "Menjaga diri dari makanan (melebihi yang diperlukan), merupakan pangkal penyakit.Al-Harits berkata pula, Yang membunuh manusia dan membinasakan binatang-binatang buas di dunia ini, ialah memasukkan makanan di atas makanan sebelum selesai pencernaan.
Ibrahim bin Adham berkata, Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah Diennya (agamanya). Dan barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji. Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang kenyang.
4. Banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang - Ini merupakan penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dahsyat, serta mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.
Dalam bergaul, hendaknya kita mengklasifikasikan (membagi) manusia menjadi dua kelompok, yang baik dan buruk. Ketidakmampuan kita membedakan dua kelompok ini, dapat membawa bencana. Allah berfirman,
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an, ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 27 - 29)
Allah berfirman pula, Teman-teman akrab para hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zukhruf: 67)
Rasulullah bersabda, Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api (pandai besi), adakalanya memberi anda (minyak wangi), atau anda membeli darinya, atau anda mendapat bau wangi darinya. Adapun peniup api (pandai besi), adakalanya membakar pakaian anda, atau anda mendapatkan bau yang kuran gsedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda, Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Maka, hendaklah kalian memperhatikan siapa sahabat kalian. (7)
Rasulullah bersabda, Janganlah anda berteman melainkan dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu, kecuali orang bertaqwa. (8)
Berkata Umar bin Khathab, Janganlah anda berjalan bersama orang fajir (yang bergelimangan dalam dosa), karena dia akan mengajarkan kepada anda perbuatan dosanya.
Berkata Muhammad bin Wasi', Tiadalah tersisa dari kenikmatan dunia, selain shalat berjama'ah dan berjumpa dengan teman (yang shalih).
Berkata Bilal bin Sa'ad, Saudaramu yang selalu mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah lebih baik bagimu, daripada saudaramu yang selalu memberimu dinar (harta benda).
Berkata sebagian salaf, Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman (yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang -yang apabila telah mendapatkan teman (yang baik)- ia menyiakannya.
Alangkah bahagianya, apabila kita diberi rezki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Semoga Allah senantiasa menyelamatkan hati kita dari segala racun dan kotorannya, sehingga kita selalu bersih dan bersinah sampai berjumpa denganNya. Amin, ya rabbal 'alamin.

Orang orang yang Didoakan oleh Malaikat

Orang orang yang Didoakan oleh Malaikat
Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Allah SWT berfirman :
Sebenarnya (malaikat malaikat itu) adalah hamba hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafaat melainkan kepada orang orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati hati karena takut kepada-Nya(QS Al Anbiyaa 26-28)

Inilah orang orang yang didoakan oleh para malaikat :

Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia(Shahih Muslim no. 469)

Orang orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra bin Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang orang) yang berada pada shaf shaf terdepan(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

Orang orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang orang yang menyambung shaf shaf(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

Para malaikat mengucapkan Amin ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Jika seorang Imam membaca ghairil maghdhuubi alaihim waladh dhaalinn, maka ucapkanlah oleh kalian aamiin, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu(Shahih Bukhari no. 782)

Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia(Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

Orang orang yang melakukan shalat shubuh dan ashar secara berjamaah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?, mereka menjawab, Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat(Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan(Shahih Muslim no. 2733)

Orang orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. Dan lainnya berkata, Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit(Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang orang yang makan sahur(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh(Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, Sanadnya shahih”)

Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain(dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT

1. Meninggalkan Shalat Merupakan Kekufuran
Allah subhanahu wata'ala berfirman mengenai orang-orang Musyrikin, artinya,
"Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama." (at-Taubah:11)
Yakni, jika mereka bertaubat dari kesyirikan dan kekufuran mereka, mendirikan shalat dengan meyakini kewajibannya, melaksanakan rukun-rukunnya dan membayar zakat yang diwajibkan, maka mereka adalah saudara di dalam agama Islam. Jadi, yang dapat difahami dari ayat ini, bahwa siapa saja yang ngotot melakukan kesyirikan, meninggalkan shalat atau menolak membayar zakat, maka ia bukan saudara kita dalam agama Islam.
Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata,"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "(Pembeda)antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim)
Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Aku khawatir tidak halal bagi laki-laki (suami) diam bersama isteri yang tidak melakukan shalat, tidak mandi jinabah dan tidak mempelajari al-Qur'an."
Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama seputar jenis kekufuran orang yang meninggalkan shalat karena bermalas-malasan meskipun menyakini kewajibannya, maka yang pasti perbuatan itu amat dimurkai.
2. Meninggalkan Shalat Merupakan Kemunafikan
Mengenai hal ini, Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah melainkan sedikit sekali."
(An-Nisa`:142) Yakni, mereka, di samping melakukan shalat karena riya`, juga bermalas-malasan dan merasa amat berat melakukannya, tidak mengharap pahala dan tidak meyakini bahwa meninggalkannya mendapat siksa.
Ibnu Mas'ud radhiyallahui 'anhu berkata mengenai shalat berjama'ah, "Aku betul-betul melihat, tidak seorang pun di antara kami yang tidak melakukannya (shalat berjama'ah) selain orang yang munafik tulen. Bahkan ada seorang yang sampai bergelayut di antara dua orang disampingnya agar dapat berdiri di dalam shaf (karena ia masih sakit)." (HR. Muslim)
3. Meninggalkan Shalat Menjadi Sebab Mendapatkan Su'ul Khatimah
Imam Abu Muhammad 'Abdul Haq rahimahullah berkata, "Ketahuilah, bahwa Su'ul Khatimah -semoga Allah melindungi kita darinya- tidak akan terjadi terhadap orang yang kondisi lahiriahnya lurus (istiqamah) dan batinnya baik. Alhamdulillah, hal seperti ini tidak pernah didengar dan tidak ada yang mengetahui pernah terjadi. Tetapi ia terjadi terhadap orang yang akalnya rusak dan ngotot melakukan dosa besar. Bisa jadi, kondisi seperti itu menguasainya lalu kematian menjemputnya sebelum sempat bertaubat, maka syaithan pun memperdayainya ketika itu, nau'udzu billah. Atau dapat terjadi juga terhadap orang yang semula kondisinya istiqamah, namun kemudian berubah dan keluar dari kebiasaannya lalu terus berjalan ke arah itu sehingga menjadi sebab Su'ul Khatimah baginya." (At-Tadzkirah: 53)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesung-guhnya ukuran semua amalan itu tergantung kepada kesudahannya." (HR. Bukhari)
Sementara orang yang melakukan shalat tetapi buruk dalam mengerjakannya, dia terancam mendapat Su'ul Khatimah, maka terlebih lagi dengan orang yang sama sekali tidak melaksanakan shalat?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat seorang yang shalat tetapi tidak sempurna dalam ruku'nya, ia seperti orang yang mematok-matok di dalam sujud shalatnya, maka beliau bersabda mengenainya, "Andai ia mati dalam kondisi seperti ini, maka ia mati bukan di atas agama Muhammad." (Hadits Hasan)
4. Meninggalkan Shalat Menjadi Slogan Penghuni Neraka Saqar
Allah SWT berfirman, artinya:
"Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Diatasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)." (Al-Muddatstsir: 27-30)

Dan firman-Nya, artinya:
"Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kecuali golongan kanan. Berada di dalam surga, mereka tanya menanya. Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. 'Apakah yang memasukkan kamu kedalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama orang-orang yang membicarakannya." (Al-Muddatstsir: 38-45)
Jadi, orang-orang yang meninggalkan shalat tempatnya di neraka Saqar.
5. Meninggalkan Shalat Merupakan Sebab Seorang Hamba Dipecundangi Syaithan

Dari Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Tidaklah tiga orang yang berada di suatu perkampungan ataupun di pedalaman, lalu tidak mendirikan shalat di antara sesama mereka melainkan syaithan akan mempecundangi mereka. Karena itu, hendaklah kalian bersama jama'ah sebab srigala hanya memakan kambing yang sendirian."(Hadits Hasan)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits tersebut menjelaskan bahwa, "Syaithan adalah srigala atas manusia yang merupakan musuh bebuyutannya. Maka sebagaimana burung yang semakin berada di ketinggian, semakin jauh dari petaka, sebaliknya, semakin berada di tempat rendah, petaka akan mengintainya, demikian pula halnya dengan kambing yang semakin dekat dengan penggembalanya, semakin terjaga keselamatannya, semakin ia menjauh, semakin terancam bahaya."
(Sumber: As-Shalah Limadza, Muhammad bin Ahmad al-Miqdam)



Agar Shalat Menjadi Hal Yang Besar Di Mata Kita Berikut ini langkah-langkah yang inysa-Allah akan menjadikan kita memandang shalat sebagai masalah yang besar :

Menjaga waktu-waktu shalat dan batasan-batasannya
Memperhatikan rukun-rukun, wajib dan kesempurnaannya
Bersegera melaksanakannya ketika datang waktunya
Sedih, gelisah dan menyesal ketika tidak bisa melakukan shalat dengan baik, seperti ketinggalan shalat berjama'ah dan menyadari bahwa seandainya shalatnya secara sendirian diterima oleh Allah subhanahu wata'ala, maka dia hanya mendapatkan satu pahala saja. Maka berarti dirinya telah kehilangan pahala sebanyak dua puluh tujuh kali lipat
Demikian pula ketika ketinggalan waktu-waktu awal yang merupakan waktu yang diridhai Allah subhanahu wata'ala, atau ketinggalan shaf pertama, yang jika orang mengetahui keutamaannya tentu mereka akan berundi untuk mendapatkannya
Kita juga bersedih manakala tidak mampu mencapai khusyu' dan tidak dapat menghadirkan segenap hati ketika menghadap kepada Rabb Tabaraka Wata'ala. Padahal khusyu' adalah inti dan ruh shalat, karena shalat tanpa ada kekhusyu'an maka ibarat badan tanpa ruh

Oleh karena itu Allah tidak menerima shalat seseorang yang tidak khusyu' meskipun dia telah gugur kewajibannya. Dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya, karena seseorang itu mendapatkan pahala shalat sesuai dengan kadar kekhusyu'an dan tingkat kesadaran dengan kondisi shalatnya itu.
Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba melakukan shalat dan dan tidaklah dia mendapatkan pahala shalatnya kecuali 1/sepuluhnya, 1/sembilannya, 1/delapannya, 1/tujuhnya, 1/enamnya, 1/5limanya, 1/empatnya, 1/tiganya, atau setengahnya." (HR. Ahmad, Abu Dawud dihasankan Al-Albani)
Oleh karenanya beliau menegaskan dalam sabdanya, "Jika kalian berdiri untuk shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan meninggalkan dunia." (HR Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani).
Sumber:
1. Ash-Shalâh,Limâdza? Muhammad bin Ahmad al-Miqdam, Dâr Thayyi-bah, Mekkah al-Mukarramah
2. Hayya 'alash shalah, Khalid Abu Shalih, hal 12-13, Darul Wathan.