Sabtu, 07 November 2009

Sempurnakan Shalat dengan Zakat

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (QS 34: 39)

Zakat termasuk salah satu rukun Islam yang wajib secara syar’i untuk dilaksanakan oleh setiap orang Islam. Begitu pentingnya zakat sampai-sampai Abu Bakar As-Shidiq yang terkenal lemah lembut itu ketika menjadi Khalifah dalam menghadapi para pembangkang yang tidak mau membayar zakat pernah mengeluarkan pernyataan bahwa beliau akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat. Fenomena yang terjadi saat ini banyak orang shalat tetapi tidak membayar zakat. Oleh karena itu secara umum umat Islam tidak bisa merasakan barakah dari tuntunan zakat itu sendiri. Padahal orang mukmin yang benar itu adalah yang menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat (QS 8: 3-4).

Banyak orang tertipu oleh kehidupan dunia sehingga berlebihan dalam mencintai harta. Mereka tamak dan rakus dalam mencari harta. Tidak kenal aturan main, semua serba diserampang. Tidak kenal teman dan saudara semua ditendang. Tidak peduli halal haram semua yang menghadang diterjang. Sementara itu ketika diseru untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah, kikirnya bukan alang kepalang. Jauh berbeda keadaannya dari orang-orang beriman. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa hidup di dunia ini sifatnya hanya sementara, sedang kehidupan akheratlah yang bersifat kekal. Tujuan hidup mereka adalah untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal. Sehingga mereka siap mengeluarkan zakat dari harta yang dicintainya untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal di negeri akherat.

Zakat dalam arti yang lebih luas shadaqah itu sangat penting untuk mendidik kita mengecilkan dunia dan membesarkan akherat. Dengan menyadari akan besarnya nilai akherat, orang akan menjauhi sifat kikir, karena takut akan kehilangan kebahagiaan akherat. Dia akan berusaha memerangi kekikiran jiwanya dengan bershadaqah. Ketulusan hati dan kesabarannya dalam bersedekah akan membimbing dirinya untuk menjadi orang yang dermawan. Orang seperti inilah yang dicintai oleh penduduk bumi dan langit. Sementara itu ketakutannya akan siksa api neraka yang kekal akan mendorong dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam berbuat taat kepada Allah, antara lain dengan menghindarkan diri dari tamak dan rakus. Kegigihan dan kesungguhannya dalam bertaat kepada Allah akan membimbing dirinya menjadi orang yang bertakwa. Orang seperti inilah yang dikatakan oleh Allah swt sebagai orang yang paling mulia di sisinya.

Dalam skala keluarga, kebiasaan untuk mengeluarkan sedekah akan menjadi tarbiyah bagi anak istri. Mereka terbiasa akan pemandangan indah memberikan bantuan kepada orang lain di sekitar mereka. Rasulullah saw bersabda: “Al yadul’ulya khairumminalyadissufla.” (Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.) Maksudnya orang yang memberi itu lebih baik dari pada orang yang diberi. Di tengah keluarga orang-orang akan tumbuh berkembang anak-anak yang memiliki sifat dermawan.

Tidak hanya berhenti sampai disitu kebiasaan untuk mendahulukan kepentingan ukhrawi daripada duniawi dengan bersedekah akan berimbas pada perubahan orientasi kehidupan keluarga dari duniawi ke ukhrawi. Di dalam keluarga yang berorientasi ukhrawi inilah dimungkinkan tumbuh dan berkembang anak istri yang tangguh dalam keimanan mereka kepada Allah dan hari akhir. Orang-orang seperti inilah yang akan selamat dalam mengarungi kehidupan dunia yang menipu dan menyesatkan. Kesamaan orientasi hidup seluruh anggota keluarga berdampak positif pula terhadap tumbuhnya rasa kebersamaan. Kebersamaan inilah yang akan menjadi modal utama bagi keluarga untuk mengarungi hidup yang serba sulit ini. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Di sisi lain zakat sangat bermanfaat untuk membantu menguatkan orang-orang yang lemah termasuk di dalamnya fakir, miskin, budak, dan orang yang berhutang. Bahkan para muallafpun diharapkan dapat dikuatkan keislaman mereka dengan pemberian zakat. Secara nasional kalau jumlah orang Islam di Indonesia ini ada 200 juta dan yang berpenghasilan rata-rata 10.000 rupiah per hari ada 100 juta orang. Maka kalau mereka sadar mengeluarkan zakat 2,5% dari penghasilannya saja, setiap hari akan terkumpul zakat sebesar 25 milyar rupiah. Dapat kita bayangkan betapa besar manfaatnya bila tuntunan zakat ini bila benar-benar diamalkan orang Islam. Dapat dipastikan dalam waktu yang relatif singkat umat Islam akan maju dengan pesat.

Dengan zakat sebanyak itu sebagian dapat dimanfaatkan untuk menunjang langkah-langkah sabilillah. Untuk membeli pesawat ringan demi menunjang dakwah pada suku terasing. Untuk mendirikan stasiun televisi yang Islami. Untuk membangun sistem pendidikan, ekonomi, dan pertahanan nasional yang lebih berwibawa di mata dunia. Alangkah indahnya bila semua umat Islam yang telah mampu menjaga shalatnya itu menyempurnakan shalat mereka dengan mengeluarkan zakat. Hanya orang-orang seperti inilah yang yang akan menikmati keindahan hidup di dunia dan akherat. (diambil dari Solopos Ramadhan 1427H dengan modifikasi)

Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina

Jilbab Syar'i dan Jilbab Funky Sumber : JILBAB dikutip oleh Othman Moh.Makki

Jumat, 30 Oktober 2009

Syarat _ SyRat d kAbuLkan nya do'A

Agar do’a-do’a yang kita sampaikan kepada Allah swt semaksimal mungkin mencapai pengabulan dari-Nya, maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Di antaranya sebagai berikut:

1) Hendaknya kita hanya meminta kepada Allah swt, tidak mempersekutukanNya dengan siapapun

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah 5)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 186)

2) Hendaknya kita semakin banyak melaksanakan berbagai perintah Allah berlandaskan iman kepada-Nya, serta dengan jalan menghidupkan berbagai sunnah Rasulullah saw

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي

”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku.” (QS Al-Baqarah 186)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran 31)

3) Hendaknya isi redaksi do’a tidak hanya mencakup urusan dunia semata, melainkan mencakup urusan dunia dan akhirat sekaligus

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a, "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan;
dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Al-Baqarah 200-202)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS Asy-Syuro 20)

4) Hendaknya do’a disampaikan dengan “merendahkan diri” dan “suara yang lembut”

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf 55)
Dalam Shahihain diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdo’a, maka Rasulullah saw bersabda:

ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا قَرِيبًا

“Hai manusia, kasihanilah dirimu karena kamu bukan menyeru kepada yang tuli dan gha’ib (tidak ada), yang kamu seru itu adalah Maha Mendengar,
Maha Melihat dan Maha Dekat.”(HR Bukhari 22/385)


5) Hendaknya pada saat berdo’a memadukan di dalam jiwa perasaan “berharap” dan “takut”. Berharap kepada Allah swt agar do’a tersebut dikabulkanNya, dan cemas kalau-kalau do’a kita tidak dikabulkan, bahkan tidak didengarNya.

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

“…dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” (QS Al-A’raf 56)

6) Hendaknya kita meyakini bahwa do’a kita pasti InsyaAllah dikabulkanNya. Cepat ataupun lambat. Di dunia ini maupun di akhirat kelak nanti. Yang penting kita tidak memaksa atau “mendikte” Allah swt, suatu hal yang memang mustahil.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah yang pedih. Maka Rasulullah saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah swt, maka Allah murka kepadaNya.” (HR AhmaD)